SINERGISITAS ORTOM ! (bag. 1)

oleh : Ipmawan Ridho
Sinergi. Kalau kita telaah secara istilah, sinergi ialah kerja sama luar secara luar biasa dan bersifat kreatif. Dan secara idiom diartikan bahwa Sinergi  ialah sebuah hasil dari proses kalkulasi yang hasilnya lebih dari unsur penyusunnya (The total is bigger than the sum of its parts). yang dengan demikian suatu struktur dalam hal ini organisasi akan semakin tangguh dan kuat ketika organisasi tersebut telah bersinergi. Berbeda dengan berbagai jenis kerjasama keanggotaan lainnya, Sinergi merupakan puncak sebuak satu kesatuan yang berlainan namun saling membangun, membentuk, dan meneguhkan.

“ Sinergi lebih  dari sekedar kompromi atau kerjasama. Kompromi itu 1 + 1 = 1 ½. Kerjasama adalah 1 + 1 = 2 .  Sinergi adalah 1 + 1 = 3 atau bahkan lebih.” Sebuah humaniora penggambaran kehebatan sebuah sinergisitas.

Dalam sturktural ortom Muhammadiyah bahwa tingkatan paling dasar ialah IPM(Ikatan Pelajar Muhammadiyah) sebagai bibit perkaderan di tingkat pelajar. Kemudian merambah ke jenjang Mahasiswa yaitu, IMM(Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah). Setingkat dengan IMM atau bahkan lebih tinggi, ada awal persemaian kader Muhammadiyah secaral real setingkat masyarakat umum nan muda, ialah Pemuda Muhammadiyah (PM) dan Nasyatul ‘Aisyiyah (NA). hingga pada akhir tingkatan tertinggi ialah Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah.

Semua unsur penyusun itu berkala dan bertingkat seolah anak tangga dari lantai 1 menuju lantai 10. Semua anak tangga haruslah dilewati secara seksama untuk menuju tujuan yang sesuai dengan arah anak tangga. Sinergisitas, sebagai pemersatu dan penyeimbang organisasi mulai ia di bibit, di semai, hingga puncak segala aspek kekaderan. Hal ini merupakan unsur yang paling penting untuk menjaga stabilitas kehidupan organisasi. Tanpa tangga dari lantai 5 ke lantai 6, maka tidak akan bisa tercapai lantai-lantai lain diatasnya. Begitu juga dengan sinergi kekaderan organisasi, tanpa ada penerus Pemuda, maka Muhammadiyah akan kekosongan kader. Tanpa ada regenerasi pelajar yang efektif, maka mustahil jika Pemuda Muhammadiyah tetap bertahan karena suplai SDM dari IPM tidak didapati lagi.

Nah, problematika inilah yang sering terjadi di kalangan warga Muhammadiyah pada umumnya. Banyak kader / Anggota / Simpatisan IPM yang enggan untuk berhijrah kepada tingkatan yang lebih tinggi. Entah dengan berbagai alasan, yang pada intinya adalah sebenarnya ini semakin memperlemah gerakan muhammadiyah dalam bersinergi antar ortomnya.

Ini akan menimbulkan ketidak seimbangan antara ortom di tiap tingkatannya. IPM akan semakin ‘usang’ ketika hanya dijabat oleh anggota tetap selama beberapa periode, karena enggan masuk Pemuda Muhammadiyah. Juga tidak akan ada penyegaran pemikiran maupun SDM di IPM selama hal ini masih menjangkiti para kader.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s