Memahami Fakta Tahlilan (bag 1)

Oleh: Saifuddin Zuhri
Kabid PIP IPM Kab.Mojokerto

            Salah satu perbuatan atau aktivitas yang sudah menjadi sebuah budaya dan tradisi yang melekat dan mendarah daging dihati masyarakat saat ini adalah tahlilan. Jika ada yang meninggal, di kebanyakan masyarakat jawa acara (ritual) ini sudah menjadi susuatu yang tidak aneh dan asing lagi, yakni  tahlilan pada hari ke-3, hari ke-7, hari ke-10, 100, sampai 1000 hari. Bagaimana sebenarnya hukum dari tahlilan dalam sudut pandang Islam? Membolehkan atau tidak?

Memahami Fakta Tahlilan

Tahlilan secara bahasa berasal dari kata ‘tahlil” yakni laa ilaaha illlallah, (tiada Tuhan selain Allah, salah satu lafadz dalam dzikir. Tahlilan secara istilah adalah sebuah aktifitas atau amalan yang di lakukan ketika ada salah satu kerabat meninggal dunia dan di dalamnya di bacakan tahlil dan ayat-ayat Al-Qur’an dengan niat untuk pahalanya dikirimkan kepada si mayit, mulai dari hari ke-1, ke-3, ke-7, ke-10 hingga ke 1000 hari. Di dalam tahlilan selain membaca lafadz tahlil, juga di bacakan surat Al-Ikhlas, An-Naas, Al-Falaq, ayat kursi dll

Kebudayaan Hindu Budha Zaman Dahulu

            Tahlilan berkembang saat masa wali songo, dahulu masyarakat Indonesia sebelum Islam datang adalah mayoritas memeluk hindu, budha, sebagian animisme dan dinamisme. Masyarakat saat itu saat ada kerabat atau tetangga yang meninggal mereka bukan malah mendo’akan si mayit, malah bergadang dengan mabuk-mabukan dan bermain judi. Karena dakwah kulturan wali songo maka aktivitas berkumpul tsb di ganti dengan mendo’akan si mayit.

            Di dalam kitab serat kali dangu dan serat wali songo, di jelaskan bahwa makhluk hidup itu memiliki selira (tubuh jasmani) dan kamarupa (keinginan). Jasmani ini dapat bergerak karena adanya atma (semangat), kama (keinginan) dan, prana (nafsu). Sedangkan manusia selain hal diatas, manusia juga  memiliki manas, manasa dan jiwa. Berikut rinciannya:

Saat hari pertama     : saat roh berpisah dari badan, atma, kama, manasa dan jiwa meninggal kan jasmani nya,

Saat hari ke-tujuh     : roh si mayit masih memiliki keinginan, dibimbing oleh malaikat kamaloka menuju gerbang shirotol mustaqim

Saat hari ke 40           : roh berada di kamaloka

Saat hari ke 100         : roh masuk ke dewaka (syurga) kemudian mati kedua kalinya, apa bila keluarga memanggilnya pada hari ini, roh nya akan berkeliaran di sekeliling keluarga dan bersemayam di batu, pohon dan tempat-tempat lain.

Saat hari ke 1000       : roh masuk kesyurga ke-dua. Proses ini berulang sampai syurga ke tujuh dan mencapai moksa (kesempurnaan).

            Karena ada beberapa fase itulah, maka ada istilah surotanah, nelung dina, mitong dino, metang poloh dino, nyatus dino dan nyewu dino. Semua aktifitas itu ialah diadakan membaca lafadz tahlil, dengan menyediakan berbagai macam makanan mulai dari tumpeng dengan aturan-aturan tertentu, kue apem, kolak bahkan sesaji yang di gunakan untuk si mayat agar selamat melewati fase-fase yang sudah di jelaskan diatas (Selamatan).

Islam Menjawab

            Setelah kita memahami fakta yang terjadi di masyarakat, maka Islam memandang:

Berkumpulnya masyarakat di rumah si mayit dan menyediakan berbagai macam makanan adalah sebuah aktifitas yang agama Islam melarang. Sebagai mana hadis Imam Ahmad bahwa Abdullah bin Abu Ja’far pernah berkata saat Ayahnya meninggal, Rasulullah bersabda: 

buatkanlah makanan buat keluarga ja’far karena mereka didatangi oleh urusan (kematian) yang menyibukkan mereka atau telah datang kepada mereka apa yang menyibukkan mereka” (HR Ahmad).

Jadi menurut hadis di atas, justru yang dianjurkan untuk menyediakan makanan adalah adalah pelayat bukan keluarga yang ditinggal.

Bahkan imam syafi’i dengan keras mengatakan:

aku benci al-ma’tam, yaitu berkumpul-kumpul di rumah ahli mayit meskiun tidak ada tangis, karena sesungguhnya yang demikian itu akan memperbarui kesedihan” (lihat Al-Umm, kitab karangan imam asy-syafi’i).

            Dan masih banyak lagi hadis-hadis, ulama fiqh yang melarang untuk melakukan aktifitas-aktifitas yang ‘menyibukkan’ keluarga yang ditimpa musibah.
Wallahu ‘alam bis showab. (zuhrie)

8 pemikiran pada “Memahami Fakta Tahlilan (bag 1)

  1. Dalam acara tahlilan ada silaturahim (ini jelas anjuran Rasulallah), ada dzikir (tahlil dan tahmid), ada pembacaan ayat-ayat Alqur’an dan Do’a (memohon kepada Allah SWT supaya Almarhum/mah diterima iman islamnya dan di ampuni segala dosanya). Semua ini justru akan menjadi amal ibadah kalau kita niatkan untuk mencari ridlo Allah SWT, perbuatan apapun tergantung niat kita… Kalau ada acara makan-makan yang merepotkan keluarga almarhum, inilah yang harus dihilangkan. Bukan tahlilanya……

  2. Sebenarnya tidak perlu diributkan. Sebab masalah tahlil bukanlah hal prinsip. Khilafiyah itu hanyalah masalah furu’iyah ( ranting ) . Bagi sebagian orang yang menganggap tahlil adalah bid’ah ( mengada-ada ), ya tidak perlu marah-marah atau ingin membubarkan mereka yang menyelenggarakan tahlil, melainkan harus tetap menghormati pendapat orang yang mengesahkan tahlil sebagai kebiasaan yang baik.

    Tahlil sebagaimana yang kita ketahui adalah sebuah kebiasaan yang baik. Kalau pun dianggap bid’ah, tahlil termasuk bid’ah yang hasanah ( baik ), bukan bid’ah sayyiah (buruk). Memang tidak pernah terjadi di masa Nabi, tetapi tahlil bagian dari upaya ulama untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan.

    Sebab di dalamnya orang membaca shalawat, membaca kalimat thayyibah, berzikir, membaca al-Quran, berdoa dan sebagainya. Justru dengan cara ini termasuk sebuah kebaikan bila diselenggarakan ketimbang hanya datang untuk makan, minum dan menghabiskan suguhan yang disediakan oleh yang punya rumah ( shahibul bait ).

    Jangan terlalu mudah mengatakan bid’ah yang terkesan berkonotasi negatif. Kalu mau melihat lebih jauh, al-Quran yang kita baca sehari-hari itu juga sangat berbeda dengan zamannya Nabi. Sebab al-Quran pada masa Nabi tidak ada titik. Jadi kalau kita membaca al-Quran sesuai al-Quran pada masa Nabi, kita sekarang ini pasti kesulitan. Nah, apakah al-Quran yang telah disempurnakan berupa penambahan titik yang gunanya untuk mempermudah umat Islam yang membacanya pada waktu itu bagian dari bid’ah juga ?

  3. Apakah do’a, bacaan Al-Qur’an, tahlil dan shadaqoh itu pahalanya akan sampai kepada orang mati? Dalam hal ini ada segolongan yang yang berkata bahwa do’a, bacaan Al-Qur’an, tahlil dan shadaqoh tidak sampai pahalanya kepada orang mati dengan alasan dalilnya, sebagai berikut:

    وَاَنْ لَيْسَ لِلْلاِءنْسنِ اِلاَّ مَاسَعَى

    “Dan tidaklah bagi seseorang kecuali apa yang telah dia kerjakan”. (QS An-Najm 53: 39)

    Juga hadits Nabi MUhammad SAW:

    اِذَامَاتَ ابْنُ ادَمَ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ اِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ اَوْعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ اَوْوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْلَهُ

    “Apakah anak Adam mati, putuslah segala amal perbuatannya kecuali tiga perkara; shadaqoh jariyah, ilmu yang dimanfa’atkan, dan anak yang sholeh yang mendo’akan dia.”

    Mereka sepertinya, hanya secara letterlezk (harfiyah) memahami kedua dalil di atas, tanpa menghubungkan dengan dalil-dalil lain. Sehingga kesimpulan yang mereka ambil, do’a, bacaan Al-Qur’an, shadaqoh dan tahlil tidak berguna bagi orang mati. Pemahaman itu bertentangan dengan banyak ayat dan hadits Rasulullah SAW beberapa di antaranya :

    وَالَّذِيْنَ جَاءُوْامِنْ بَعْدِ هِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَااغْفِرْلَنَا وَلاِءخْوَنِنَاالَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلاِءْيمن

    “Dan orang-orang yang datang setelah mereka, berkata: Yaa Tuhan kami, ampunilah kami dan ampunilah saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan beriman.” (QS Al-Hasyr 59: 10)

    Dalam hal ini hubungan orang mu’min dengan orang mu’min tidak putus dari Dunia sampai Akherat.

    وَاسْتَغْفِرْلِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنتِ

    “Dan mintalah engkau ampun (Muhammad) untuk dosamu dan dosa-dosa mu’min laki dan perempuan.” (QS Muhammad 47: 19)

    سَأَلَ رَجُلٌ النَّبِىَّ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَارَسُوْلَ اللهِ اِنَّ اُمِى مَاتَتْ افَيَنْفَعُهَا اِنْ تَصَدَّقْتَ عَنْهَا ؟ قَالَ نَعَمْ

    “Bertanya seorang laki-laki kepada Nabi SAW; Ya Rasulullah sesungguhnya ibu saya telah mati, apakah berguna bagi saya, seandainya saua bersedekah untuknya? Rasulullah menjawab; yaa berguna untuk ibumu.” (HR Abu Dawud).

    Dan masih banyak pula dalil-dalil yang memperkuat bahwa orang mati masih mendapat manfa’at do’a perbuatan orang lain. Ayat ke 39 Surat An-Najm di atas juga dapat diambil maksud, bahwa secara umum yang menjadi hak seseorang adalah apa yang ia kerjakan, sehingga seseorang tidak menyandarkan kepada perbuatan orang, tetapi tidak berarti menghilangkan perbuatan seseorang untuk orang lain.

    Di dalam Tafsir ath-Thobari jilid 9 juz 27 dijelaskan bahwa ayat tersebut diturunkan tatkala Walid ibnu Mughirah masuk Islam diejek oleh orang musyrik, dan orang musyrik tadi berkata; “Kalau engkau kembali kepada agama kami dan memberi uang kepada kami, kami yang menanggung siksaanmu di akherat”.

    Maka Allah SWT menurunkan ayat di atas yang menunjukan bahwa seseorang tidak bisa menanggung dosa orang lain, bagi seseorang apa yang telah dikerjakan, bukan berarti menghilangkan pekerjaan seseorang untuk orang lain, seperti do’a kepada orang mati dan lain-lainnya.

    Dalam Tafsir ath-Thobari juga dijelaskan, dari sahabat ibnu Abbas; bahwa ayat tersebut telah di-mansukh atau digantikan hukumnya:

    عَنِ ابْنِى عَبَّاسٍ: قَوْلُهُ تَعَالى وَأَنْ لَيْسَ لِلاِءنْسنِ اِلاَّ مَا سَعَى فَأَنْزَلَ اللهُ بَعْدَ هذَا: وَالَّذِيْنَ أَمَنُوْاوَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِيَتُهُمْ بِاِءْيمنٍ أَلْحَقْنَابِهِمْ ذُرِيَتَهُمْ فَأَدْخَلَ اللهُ الأَبْنَاءَ بِصَلاَحِ اْلابَاءِاْلجَنَّةَ

    “Dari sahabat Ibnu Abbas dalam firman Allah SWT Tidaklah bagi seseorang kecuali apa yang telah dikerjakan, kemudian Allah menurunkan ayat surat At-Thuur; 21. “dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, kami pertemukan anak cucu mereka dengan mereka, maka Allah memasukkan anak kecil ke surga karena kebaikan orang tua.”
    Syaekhul Islam Al-Imam Ibnu Taimiyah dalam Kitab Majmu’ Fatawa jilid 24, berkata: “Orang yang berkata bahwa do’a tidak sampai kepada orang mati dan perbuatan baik, pahalanya tidak sampai kepada orang mati,” mereka itu ahli bid’ah, sebab para ulama’ telah sepakat bahwa mayyit mendapat manfa’at dari do’a dan amal shaleh orang yang hidup.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s