Pelajaran Kepemimpinan Dari Seorang Gembala

Oleh : Ipmawan Ridho

Sekbid PIP IPM Mojokerto

“Pempimpin yang tidak mengerti anggotanya, seperti gembala yang menggiring ternak tanpa kendali. Ketika bermasalah, maka ternak akan lari tak menentu arah. Bahkan mungkin tersesat tak kembali. Berbeda kondisi jika keduanya saling ada pengertian, akan banyak keuntungan yang dapat dicapai, seperti gambar di atas…”

Pembaca yang budiman…

Secara teori, kepemimpinan memang dipertimbangkan oleh banyak faktor yang kesemuanya saling berhubungan untuk memenuhi kebutuhan perkumpulan, pemahaman teori bahkan tidak cukup jika tidak di imbangi dengan kepekaan perasaan seorang pemimpin. Maksudnya adalah bagaimana peran seorang pemimpin mengatur dan mengelola perasaan (feeling) dan kemauan (mood) dirinya dan anggotanya. Tanpa satu titik pemahaman ini, maka kepemimpinan seperti apapun tidak akan bisa mengembangkan pergerakan secara bebas dan dinamis.

Ketika memimpin perkumpulan dimana keseimbangan antara feeling dan mood pemimpin dengan anggotanya tidak sama, maka akan timbul suatu jurang yang memisahkan ikatan perkumpulan tersebut. Nah, disinilah faktor pemahaman perasaan seorang pemimpin diperlukan, terkadang tidak semua keputusan pemimpin mampu diterima anggotanya, begitu juga sebaliknya. Namun, dalam konsep demokrasi kepemimpinan, kita tahu bahwa jumlah kepala-lah yang dipertimbangkan, bukan isi kepala. maka sudah selayaknya pemimpin bisa mengerti kemauan anggotanya. Namun, tentunya dengan berbagai pertimbangan matang, dan yang paling penting adalah kesepakatan semua unsur (pemimpin dan yang dipimpin).

Menunjau dari perandaian di atas tentang ternak & gembala, maka kita semua bisa mengambil hikmah, bahwa hewan dan manusia pun bisa bekerja sama dan berkordinasi dengan baik, meski keduanya merupakan unsur yang berbeda; baik dari segi fisik, bahasa, pola berpikir, maupun tingkah laku. Hal ini
adalah perwujudan dari sebuah timbal balik rasa pengertian antara pemimpin (gembala) dengan yang dipimpin (ternak), sehingga sebuah jurang besar yang memisahkan kedua unsur ini menjadi terkikis oleh suatu kordinasi yang hebat.

Lalu, bagaimana dengan manusia (pemimpin dan anggotanya) ?
Kedua elemen ini sungguh jauh berbeda dari kisah gembala dan ternaknya. mereka (pemimpin dan anggotanya) adalah sebuah satu kesatuan yang berasal dari unsur yang sama; fisik yang sama, bahasa yang sama, dan semua nya sama dalam sebuah konteks kemanusiaan. Maka seharusnya akan lebih mudah melakukan pendekatan, pengertian, dan toleransi dalam penggunaan pola pikir khuznudzon. Bahkan kita dianugerahi akal untuk berpikir, yang seharusnya pula kita gunakan untuk memikirkan pentingnya itu semua dalam mengadakan perkumpulan. Bukan untuk memikirkan bagimana agar orang lain bisa dipaksakan menerima paham kita dengan menggunakan banyak alasan.

Kordinasi yang didasari toleransi, pengertian & tenggang rasa akan menghasilkan suatu pergerakan dinamis yang di dalamnya tentram, sehingga proses pencapaian tujuan semakin terasa nikmat bagi semua elemen, baik pemimpin maupun yang dipimpin.

3 pemikiran pada “Pelajaran Kepemimpinan Dari Seorang Gembala

  1. btul bngt, kordinasi antara pmimpin dn anggota tu sngat diprlukan. kita ambil plajaran dr kisah hidup Rasulallah SAW. dmna Bliau selalu mengkordinasikn p yg kn dilakukan’a kpada para sahabat’a. dn kedekatan Rasulallah SAW dengan para sahabat’a jg bsa mnjadi contoh buat kita bagaimna sharus’a para pemimpin dekat dengan anggota’a.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s