Ketika Perpustakaan Jadi Identitas.

Oleh : Ipmawan Zuhri (Kabid PIP IPM Mojokerto)

Perustakaan, tentu kita tidak asing dengan nama tempat ini. Mungkin sebagian dari kita sering berkunjung ketempat ini. Bagi para pelajar atau para mahasiswa ketika ada tugas dari dosen atau gurunya, pasti perpustakaan jadi tempat yang tepat untuk mencari referensi dan literatur. Jarang sekali sebagian dari kita sering ke perpustakaan. Perpustakaan identik dengan orang-orang pintar, ilmuwan, para kutu buku. Bahkan jarang perpustakaan ramai seperti ramainya mall-mall, pusat berbelajaan dll. Sampai-sampai ada juga perpustakaan yang hanya buka ketika ada permintaan saja. Ada juga perpustakaan yang mengganti strategi, supaya ramai pengunjungnya, mereka memperbanyak komik, majalah, ataupun peminjaman VCD. Tiba sekejap perpustakaan berubah menjadi tempat penyewaan komik atau rental VCD, Ironis..

            Ini sangat berbeda sekali dengan 100 tahun yang lalu, ketika zaman islam mengalami era keemasannya. Di kota Bagdad pedagang buku Ibn an-Nadhim mempublikasikan al-fihrist (Katalog Pembaharuan). Buku ini terdiri dari 10 jilid dan memuat judul seluruh buku dalam bahasa Arab yang terbit hingga saat ini, baik dari ilmu ushuluddin, ilmu astronomi, matematika, filsafat, kimia, kedokteran dll. Buku-buku tersebut yang masuk dalam katalog sepertinya sudah terjamin mutunya dan menjadi buruan para pengelola perpustakaan, berikut ahli salinnya, juga para cerdik cendekia yang tidak ingin ilmunya dikatakan standard, hanya karena tidak mengenal buku yang ada dalam katalog. Buku yang saat itu masih di tulis tangan menjadi barang yang sangat mahal.

            Tertariklah orang-orang di penjuru Timur dan Barat pada waktu itu kepada perpustakaan di dunia Islam. Perpustakaan Universitas Cordoba memiliki setengah juta koleksi buku. Di kairo ada beberapa ratus pustakawan yang melayani koleksi di perpustakaan tsb yang jumlah koleksinya mencapai dua juta buku. Subhanallah, luas perpustakaannya kira-kira dua hektar.  Angka yang sungguh luar biasa.

            Para pustakawan pada waktu itu, wajib memiliki ilmu yang terkait dengan koleksi buku yang diurusnya. Ia tidak hanya sekedar tahu judul buku, pengarangnya dll. Sebagai contoh misalnya seorang pustakawan yang mengurus buku-buku fiqih harus pula mengerti tentang ilmu fiqh. Seperti halnya seorang pustakawan yang mengurusi karya al-biruni dan al-haitam, haruslah seorang astronom dan matematikawan.

Islam Versus Barat

Barat saat itu masih stagnan di zaman kegelapan, di Roma tidak ada seorangpun yang memiliki pendidikan yang cukup pada waktu itu. Disisi lain Islam cemerlang dengan para scientist-scientist muslim, abu kalsis misalnya menyelesaikan sebuah ensiklopedi bedah. Al-biruni dengan karya-karyanya tentang peredaran bumi mengelilingi matahari. Al-Hatsam yang menulis prisip-prisip optika serta bereksperimedn dengan kamera obscura, berbagai bentuk lensa dan cermin. Dua dunia yang sangatlah berbeda jauh.

Yang luar biasanya lagi, pada waktu itu orang-orang muslim yang kaya menjadikan waqaf perpustakaan sebagai salah satu cara untuk mewujudkan identitasnya. Di Bagdad ada 200 perpustakaan pribadi yang di waqafkan untuk umum. Dan tidak main-main, banyak yang mewaqafkan perpustakaan tidak hanya gedung nya saja, tetapi juga berikut aset produksi untuk membiayai seluruh operasional perpustakaan tersebut. Sayang saat serbuan tentara Mongolia, nyaris seluruh perpustakaan tersebut di hancurkan di sungai Tigris, yang sampai-sampai airnya menjadi hitam warnanya.  (dirangkum dari tulisan Prof.DR Ing Fahmi Amhar, Peneliti Utama Bakorsurtanal Indonesia)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s