SEJARAH IPM JATIM

Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM) merupakan nama baru dari Ikatan Pelajar Muhamadiyah (IPM). IPM Jawa Timur berdiri 5 tahun setelah berdirinya IPM ditingkat pusat. Kepemimpinan IPM Jawa Timur dibentuk berdasarkan Musyawarah Wilayah (Musywil) I IPM yang berlangsung di Surabaya pada 1966. musywil pertama menghasilkan periode kepemimpinan 1966-1969, dengan komposisi Rusbandi (Ketua Umum) dan multazam Mastur (Sekretaris Umum).

Pada saat kelahiran IPM Jawa Timur, secara nasional Indonesia sedang dihadapkan pada persoalan pertentangan ideologi dalam kehidupan sosial dan politik pasca pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) tahun 1965.kondisi demikian menyababkan terjadinya polarisasi kekuatan dalam perebutan kekuasaan di lembaga-lembaga pemerintah dan kehidupan bermasyarakat.

Konteks kelahiran kepemimpinan IPM Wilayah Jawa Timur mempengaruhi arah kebijakan organisasi. Hampir semua kegiatan periode ini yang dipusatkan dikomplek Perguruan Muhammadiyah jalan Kapasan 73-75 Surabaya, diarahkan untuk penataan organisasi yang diharapkan dapat membentuk karakter dan jati diri IPM. Namun demikian,pada periode ini perkembangan organisasi tidak berjalan seperti yang diharapkan. Hal ini disamping karena masih banyak persoalan organisasi yang membuthkan perhatian, juga karena ketua saat itu (Rusbandi) pindah ke Jakarta. Sehingga aktifitas organisasi digerakkan oleh Multazam Mastur.

Kesempatan untuk memperbaiki kepemimpinan IPM periode pertama terjadi dengan dilaksanakannya Musywil kedua oleh IPM pada tahun 1969 di Surabaya. Pada Musywil kedua ini dihasilkan kepemimpinan IPM Jawa Timur periode 1969-1972 dengan komposisi: Multazam Mastur (Ketua Umum) dan Labib Syaifudin (Sekretaris Umum). Tokoh-tokoh yang terlibat dalam kepemimpinan periode ini adalah Abdullah Faqih, Nafiah, M. Said Yasna, M.syafi’i, Syahid Ismail dan Faridah Hanum.

Program utama periode adalah menetapkan Konsolidasi Internal, dalam rangka mempertahankan eksistensi IPM sebagai organisasi berbasis pelajar terutama dikalang pelajar Muhammadiyah pada periode Multazam Mastur dan Labib Syaifudin inilah Jawa Timur pertama kalinya mendapatkan kehormatan enjadi tan rumah pelaksanaan MUKTAMAR III IPM tahun 1972.

Periode kepemimpinan 1972-1975 terbentuk berdasarkan hasil Musywil III IPM tahun 1972 di Gresik, dengan komposisi : Henry Nurhamzah (Ketua Umum), Said Yasna (Sekretaris Umum), M. Syafi’i dan Halim Halimus, masing-masing sebagai sebagai Wakil Ketua.

Program utama organisasi selain meningkatkan konsolidasi organisasi dan kaderisasi, juga turut serta meningkatkan gerakan dakwah. Kepemimpinan periode ini tidak berjalan mulus karena Ketua IPM harus pindah ke Palu, sehingga kegiatan organisasi dilakukan oleh M. Syafi’i. Sama dengan dua periode sebelumnya, selama periode ini 1975-1978 yang dihasilkan dari Musywil IV IPM di Surabaya, menetapkan Chusnul Yakin menjadi (Ketua Umum) Chusnul Busyroh (Sekretaris Umum). Anggota yang tercatat mejadi periode ini adalah Sukamto Ishak, Wahab Mastur (Wakil Ketua), Muti’ah, Hanum (IPMawati), M. Arifin, Anis Idris Jaiz dan Slamet Hariyanto (Wakil Sekretaris) Bamabang Sukarsono dan Kosin (Bendahara).

Kepemimpinan Chusnul Yakin hanya beberapa bulan karena ia pindah ke Jakarta. Selanjutnya, roda kepemimpinan dikendalikan oleh Abdul Wahab Mastur dan dibantu kepemimpinan yang lainnya. Pada periode ini program kegiatan banyak diorientasikan pada pengembangan Sumber Daya Manusia dan kaderisasi.problem yang muncul pada periode ini adalah berkaitan dengan keberadaan Pelajar Islam Indonesia (PII) yang juga sebagi pelajar Islam. Persoalan yang dihadapi oleh IPM dalam kaitannya dengan eksistensi PII adalah sikap yang tidak mendukung dengan keberlangsungan kegiatan IPM oleh beberapa anggota Pimpinan Muhammadiyah dan juga kepala sekolah-sekolah yang memiliki latar belakang PII.

Perkembangan IPM wilayah terus berlangsung hingga dilaksanakannya Musywil V di Pasuruan 1978. Pada musywil tersebut dihasilkan kepemimpinan periode 1978-1982 dengan komposisi: slamet hariyanto (Ketua Umum), Chusnul Busroh (Sekretaris Umum), dibantu M. Arifin,  khusnaini saputro (Wakil Ketua), Puji Astutik ( IPMawati), Imam Santosa, Rudi Rahayu Firmansyah, Mimik Alisa (Wakil Sekretaris), Yayuk Qomarudin (Bendahara), Sulton Amin dan Sabar Santoso (Ketua Departemen).

Periode kepemimpinan slamet hariyanto ini dapat disebut sebagai babk baru dalam hal startegi pengembangan gerakan diantara kebijakan organisasi yang dapat dikatan cukup penting adalah startegi mobilisasi pelajar kelas 3 SMA Muhammadiyah untuk turut aktif dalam kegiatan-kegiatan IPM Wilayah dsn Daerah.

Bahkan beberapa diantara mereka telah direkrut untuk membidangi departemen tertentu dalam kepemimpinan IPM Wilayah. Kebijakan tersebut selanjutnya juga dikampanyekan dibeberapa daerah dengan harapan dapat mendongkrak keinginan Pelajar Muhammadiyah untuk aktif di organisasi pelajar seperti IPM yang ada di sekolah-sekolah. Tampaknya pelibatan siswa-siswa SMA dalam kegiatan kepengurusan IPM ditingkat Wilayah dan Daerah itulah pada saatnya turut mewarnai perkembangan IPM. Hal itu  tampak pada periode selanjutnya dimana pada kegairahan pelajar Muhammadiyah untuk aktif di IPM mengalami peningkatan yang cukup signifikan.

Prioritas program pengembangan IPM dengan lebih banyak melibatkan siswa SMA Muhammadiyah dibeberapa Daerah juga diteruskan oleh pimpinan periode 1982-1985. periode kepemimpinan ini merupakan hasil Musywil VI IPM di Malang 1982, dengan komposisi : Husnaini Saputra (Ketua Umum), Fairuz Bahtir (Sekretaris Umum), Rudi Wahyu Firmansa, Firdaus Ali (Wakil Sekretaris), Yayuk Nur Hayati dan Nur Hayati (IPMawati), Muinatun Ali (Wakil Sekretaris) dan Nanik Ruspandi (Bendahara).

Selain program penguatan dan pengembangan organisasi, dengan mengadakan kegiatan-kegiatan rutin dalam rangka konsolidasi organisasi dan kaderisasi, periode ini juga turut ikut serta dalam kegiatan berdakwah. Apalagi pada periode ini muhammadiyah sangat gencar mensosialisasikan gerakan jama’ah dan dakwah jama’ah.

Kebijakan organisasi selama kepemimpinan Husnaini Saputra dilanjutkan oleh kepemimpinan periode 1985-1988 dibawah komando Itok Wicaksono (Ketua Umum), Ahmad Kamil (Sekretaris Umum), dan Agus Rasyid (Bendahara).

Kepemimpinan periode ini merupakan hasil Musywil VII IPM yang berlansung di Ponorogo pada 1985. Beberapa pengurus yang terlibat dalam kepemimpinan periode ini adalah: Yunus Wahyudi, Ahmad Chobir dan Agus Budi Winoto dan Suciatining (Wakil Ketua), Nur Endah, Pientoko Endawati dan Nur Aini, Najib Hamid, dan M. Thoha.

Karena adanya tuntunan terhadap pembinaan IPM di daerah-daerah, maka pada periode musywil VIII di Jember tahun 1988 diptuskan format baru kepemimpinan wilayah IPM di tiga kota Surabaya, Malang dan Jember. Tiga kota dijadikan pilot project pengembangan IPM tersebut memang dikenal sebagai basis anggota IPM di Jawa Timur.

Berdasarkan konsep kepemimpinan tersebut maka disususnlah komposisi kepemimpinan periode 1988-1991/1993 dengan personalia : Miftahul Abror (Ketua Umum), Aryf Yulianto (Sekretaris Umum) dan Muhammad Syaiful Anwar (Bendahara), Syaiful Arif (Ketua Perwakilan Jember) dan Daeng Muhammad Faqih (Ketua Perwakilan Malang). Selama kepemimpinan periode ini program kebijakan umum yang menjdi prioritas adalah konsolidasi organisasi dengan lebih mengintensifkan kunjungan ke daerah untuk pembinaan kader.periode ini juga ditandai dengan perpindahan sekretariat dari komplek perguruan Muhammadiayah dijalan kapasan ke jalan Gembili III No. 42 Surabaya (Rumah Almarhum Ir, Muhammad Sulaiman, anggota PWM Jawa Timur).

Pada tahun 1992 terjadi perubahan nama IPM menjadi IRM (Ikatan Remaja Muhammadiyah) yang dikukuhkan melalui Pimpinan Pusat Muhammadiyah No. 53/SK-Pimpinan Pusat/VI.B/1992, tgl 18 November 1992. perubahan nama tersebut menyebabkan segera dilakukanya usaha memperbaharui visi dan orientasi gerakan organisasi secara lebih luas dari ruang lingkup kepelajaran memasuki dunia keremajaan.

Perubahan nama Ikatan Pelajar Muhammadiyah menjadi Ikatan Remaja Muhammadiyah tidak dapat dilepaskan dari kebijakan pemerintah Orde Baru. Pada saat itu pemerintah menetepkan semua organisasi pelajar dilikuidasi dan sebagai penggantinya diresmikan OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah) sebagai satu-satunya organisasi pelajar  di Indonesia.

Mengenai motifasi dibentuknya OSIS ini jelas dilatar belakangi oleh keinginan rezim Orde Baru agar pemerintah dapat mengendalikan sebuah organisasi sosial kemasyarakatan, termasuk organisasi kesiswaan. Perubahan nama tersebut sempat menimbulkan perbincangan yang panjang dan melelahkan antara pihak IPM dan pemerintah, meski akhirnya IPM berjiwa besar dengan menerima ketentuan pemerintah tersebut.

Meski masih dalam kondisi transisi akibat perubahan nama IPM menjadi IRM kegiatan rutin berupa Musywil IX IRM berhasil dilaksanakan pada 28 hingga 30 Agustus 1993 di Peguruan Muhammadiyah Kediri.

Muswil kali ini menghasilkan komposisi kepemimpinan periode 1993-1996 dengan personalia: Misbahul Munir (Ketua Umum), Muhammad Tofa (Sekretaris Umum) dan Dwi Endah Purwati (Bendahara).

Dalam konpida 1994 di Jember Muhammad Tofa digantikan oleh Imam Gozali Jajuri. Periode Misbahul Munir ditandai dengan semi loknas perkaderan IRM pada 26-29 Maret 1994 di UNMUH Malang yang melahirkan sistem perkaderan IRM (SPI). Kegiatan lainnya, Pekan Ilmiah Remaja (PIR) tahun 1994 dan Festifal Kreatifitas Remaja Muslim (FKRM) di Nganjuk pada 1995. prioritas program kepemimpinan ini pada bidang dakwah.

Pada Musywil X (16-19 Mei 1996) di Sidoarjo, Fathul Mufid terpilih sebagai Ketua Umum periode 1996-1998, Nialun Ni’am (Sekretris Umum) dan Yayuk Heminingsih (Bendahara). Pesonalia periode ini mengalami perubahan pada saat konpida di Gandrung- Banyuwangi. Yang ditandai dengan pergantian Nailun Ni’am oleh Nur Aini.

Kebijakan periode ini diprioritaskan pada pengembangan SDM melalui ,ekanisme gerakan yang kondusif bagi terciptanya tradisi keilmuan yang berwawasan IPTEK dan tradisi berkarya kreatif dan berakhlak mulia. Pada periode ini, mulai perkembangan kajian tentang gender. Hingga akhirnya pada Musywil XI bidang IRMAWATI dihilangkan karena dianggap membatasi ruang gerak aktifis putri.

Dalam suasana euphoria reformasi pasca Orde Baru, diadakan Musywil di Ponorogo pada tanggal 6-9 Agustus 1998. dari Musywil kali ini dihasilkan periode kepemimpinan 1998-2000, dengan personalia: Muhammad Lukman Harun (Ketua Umum), Muhammad Rifqi (Sekretaris Umum) dan Onix Fauziah (Bendahara Umum).

 Namun demikian, kompida di bangkalan tahun 2000 dilakukan penggantian Sekretaris Umum, dari M. Rifqi kepada Ifah Nurdiani. Diantara kegietan penting adalah pelaksanaan KIR (Kelompok Ilmiah Remaja) tahun 2000 yang diadakan Pimpinan Pusat IRM.

Denagn semangat reformasi, Musywil XI tersebut mulai memperbincangkan pentingnya pengkajian ulang terhadap pergantian nama. Arus besar aktifis IRM menghendaki adanya perubahan nama IRM menjadi IPM. Namun, Muktamar XII di Jakarta memutuskan tidak berubah. Tetapi semangat perubahan paradigma baru dalam tubuh ikatan, termasuk dalam hal ini adalah struktur organisasi yang tadinya bersifat sentralistik di ubahmenjadi desentralistik.

Sikap organisasi terhadap implementasi perubahan paradigma sentralisasi menjadi desentralisasi kembali dibicarakan pada Musywil XII di pasuruan, pada 2-23 Oktober 2000.

Musywil kali ini menghasilkan kepemimpinan periode 200-2002, dengan personalia: Abdul Adjis (Ketua Umum), Hazim Hamid (Sekretaaris Umum) dan Istiqomah (Bendahara Umum). Dalam struktur kepemimpinan periode ini, selain Ketua Umum terdapat beberapa Ketua, yaitu: Nur Hidayah, M. Ernam, sri Puji Hidayati, Sri Muriyanti, Subhan Mas, Sobikin Amin dan 5 sekretaris: Alfino, M. Lutfi, Ismael Saleh, Eko Hardiansyah, Ima Novianti, Hevi Kurnia Hardini, serta seorang bendahara Mushodiq.

Periode ini merupakan babak baru sejak perubahan paradigma. Banyak kebijakan penting, misalnya penataan dan pemantapan gerak organisasi dengan mengusahakan kemandirian dan pengembangan program-program advokasi kepelajaran/keremajaan yang muatannya adalah memupuk kepekaan sosial politik, membangun etos intelektual dan penguatan nilali-nilai moral remaja dan pelajar.

Yang menarik dari periode ini adalah munculnya semangat gerakan pada penyadaran dan pemberdayaan remaja maupun pelajar melalui gerakan advokasi. Karena itulah pada periode ini lahir bidang baru yakni bidang Hikmah. Pada periode ini juga ditandai perpindahan kantor sekretariat dari Jl. Gembili III/42 ke Kertomenanggal IV/2, yang memang dijakan sebagai kantor bersama Ortom tingkat Wilayah.

Masih dalam semangat otomatis gerak langkah iaktan, IRM mengadakan Musywil XIII di Nganjuk pada 2002 yang menghasilkan kepemimpinan periode 2002-2004 dengan personalia: M. Lutfi (Ketua Umum), Faslil Fuad, R. Zain, Sri Puji Hidayati (Ketua), M. Alfino Firdaus,Amrozi Abror, Erik Tri Ichsanto,Ahmad Wahyudi, Nur Rahmad, Fathur Rozi (Sekretaris), Timor Aji Hantoro (Bendahara), Yudianti (Wakil Bendahara).

Pasca Konpida Magetan terjadi resufle pimpian. Posisi sekretaris umum yang semula dijabat Mushodiq digantikan Ismail Saleh yang semula menduduki posisi Ketua, dengan tambahan beberapa nama seperti Shobikin Amin, Ima Novianti, Hevi Kurnia Hardini di posisi Ketua dan Aksar Wiyono, Yulfa Mardiana, Yuliani Nur Rahmad, diposisi sekretaris serta nurhabibah diposisi bendahara. Empat bulan pasca Konpida, dilakukan evaluasi terhadap keaktifan pimpinan. Akhirnya, dengan beberapa pertimbangan dilakukan resufle lagi.

Selain meneruskan program penataan organisasai dengan semangat desentralisasi, pada periode ini mulaidikembangkan jenis-jenis usaha yang dapat membantu keuangan bekerjasama dengan sekolah-sekoalah Muhammadiah di Jatim.

Kegiatan ini dilaksanakan sesuai dengan bidang yang ada.yakni bidang kaderisasi dan pengembangan sumberdaya manusia, studi keislaman, pengkajian ilmu pengetahuan, hikmah dan advokasi.

Dalam Musywil XIV di Madiun 2004-2 Januari 2005, faslil fuad terpilih sebagai Ketua Umum, dibantu Maukuf Ulil Azmi, Erik Tri Iksanto, Dian Berkah, Haery Fadly, Nailis Sifa’, Yuliani (Ketua), Amelia Aini (sekretaris Umum), Aksar Wiyono, Yulfa Mardiana, Mahtumatul Fauziyah, Ria Eka Lestari, Adi Nugroho, Ria Pusvitasari (Sekretaris). Yudianti (Bendahara Umum), David Febriadi, Muthoharoh (Bendahara).

Bidang Organisasi: Arik Sudahriyono, Didin Muslimatin, Musyaffa Basyir, Sumhaji, Rahmad Zulkarnain,. Bidang kaderisasi dan pengembangan SDM: Ahmad Anton, Adiwijaya, Gulam Mubarok, Siti Khuzaimah, Slamet Nuryono, Siti Fatimah. Bidang studi dakwah islam: Ridwan Zaein Arriadi, Siti Zulaikha, Fitriyatus Sholikah. Bidang pengkajian ilmu pengetahuan: Aan Khaunaifi, Afif Rosyadiansyah, Erwin Oktawijaya,. Anggota bidang apresiasi seni dan kebudayaan: Faudzul Fidzikri F, M. Abdul Ghofur, Amri RABA. Bidang hikmah dan advokasi: Abdul Alam, Affan Alfian, Fathur Rozi, Hevi Kurniah, Mubarok MZ, Suwandi Pranoto. Per dan hubungan eksternal: Puguh Langgeng Waluyo, Shobikin Amin, Tamin Masrurroh.

Kebijakan periode ini diarahkan kepada pengabangan gerakan untuk mewujudkan gerakan IRM sebagai gerakan transformatif diasyarakat dengan mengusahakan pengayaan program-program alternatif pemberdayaan.

Dalam Musyawarah Wilayah ke XV Ikatan Remaja Muhammadiyah Jawa Timur pada 29 Desember 2006-02 Januari 2007 di Universitas Muhammadiyah Jember berhasil memilih 9 formatur yang diantaranya: Afif Rosyadiansyah, Dian Berkah, Slamet Nuryono, Didin Muslimatin, Afif Afandi, Affan Alfian, Siti Fatimah, M. Rokib, Muthoharoh.

Dari 9 formatur tersususn komposisi PW. IRM Jawa Timur periode 2006-2008 sebagai berikut; Ketua Umum: Dian Berkah, Sekretris Umum: Slamet Nuryono, Bendahara Umum: Muthoharoh, dan jajarannya sebagai berikut; Kabid Organisasi: Afif Rosyadiansyah, Kabid KPSDM: Didin Muslimatin, Kabid SDI: Taufikurrahman, Kabid PIP: M. Rokib, Kabid ASKO: Erwin Oktawijaya, Kabid HA: Affan Alfian, sedangkan untuk Sekbid Organisasi: Aksar Wiyono, Sekbid KPSDM: Siti Fatimah, Sekbid SDI: Afif Afandi, Sekbid PIP: Amiq Fikriyati, Sekbid ASKO: Risalatul Muawamah,  Sekbid HA: Ahmad Anang Fauzan.

Dalam periode ini bidang kepemimpinan diarahkan pada terciptanya kepemimpinan yang solid dan progresif menuju terwujudnya gerakan IRM yang menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman serta bermetodologi kritis dan transformatif secara masif.

Untuk bidang kesekretariatan diarahkan pada sasaran khusus berupa uapaya menciptakan infrastruktur organisasi dalam upaya meningkatkan dan mendukung gerakan IRM yang berorientas pada gerakan kritis transformatif dan berkesadaran dadlam rangka membangun gerakan dakwah transformatif secara simultan.

Bidang keuangan  arah kebijakannya pada sistaem keuangan terpadu dan sistematik, sehingga prosesmekanisme dan transparansi keuangan berjalan sebagaimana mestinya untuk mensukseskan dan melangsungkan misi IRM.

Arah kebijakan bidang Orgaisasi adalah diarahkan pada pengembangan infrastruktur organisasi yang lebih representatif dan kondusif untuk penguatan jaringan dan mewujudkan gerakan kritis transformatif. Bidang KPSDM diarahkan pada pengembangan proses kaderisasi yang menjadi salah satu alat massifikasi gerakan menuju gerakan transformasi sosial serta menjadi salah satu alat massifikasi gerakan menuju pengkaderan pada jenjang kepemimpinan di bawahnya (PD,PC, dan PR). Bidang PIPmemfokuskan arah kebijakannya pada pengembangan intelektualitas, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK). Sasaran khusus bidang PIP diarahkan pada terciptanya tradisi ilmiah yang objektif dengan pengusaan teknologi tepat guna dengan mempertimbangkan aspek-spek kemanusiaan dan spiritualitas. Bidang SD diarahkan pada reaktualisasi – reinterpretasi – revitalisasi penanaman nilai-nilai Islam melalui sikap dan metode kritis dan transformatif sehingga dapat membangun identitas remaja muslim yang memiliki spiritualitas tinggi dan mengedepankan nilai-nilai moral. Bidang ASKO difokuskan pada massifikasi gerakan kritis remaja sebagai bentuk aktualisasigerakan kesadaran kritis bidang kebudayaan dan olah raga, serta mengembangkan minat dan apresiasi dalam bidang seni menuju terbentuknya kader IRM yang transformatif dan berkepribadian kultural. Bidang HA diarahkan pada pemberdayaan pelajar dan remaja yang mampu bertindak kritis dan bijak terhadap kondisi sosial kemasyarakatan, serta responsif terhadap issue yang sedang berkembang.

Pada Konferensi Pimpinan Daerah Ikatan Remaja Muhammadiyah Jawa Timur di Kota Malang 5-9 Maret 2008, terjadi resufle pimpinan yang bertujuan untuk penyegaran kaderisasi dan untuk estafet kepemimpinan. Selanjutnya pleno pimpinan pasca KONPIDA mengahsilkan perubahan besar-besaran pada struktur pimpinan dengan Ketua Umum Didin Muslimatin, Sekretaris Umum Amiq Fikriyati, dan Bendahara Umum Zainun Fanani.

(diambil dari buku materi konpida IPM di Probolinggo)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s