HAEDAR NASHIR: “Kegilaan Dunia Baru”

Terganggukah para ilmuwan pemimpin di berbagai belahan  dunia dengan tragedi Libya dan negeri-negeri Timur Tengah saat ini? Mestinya tak ada kegelisahan yang paling membuncah bagi para pencari kebenaran, keadilan dan kebaikan universal kecuali menyaksikan tumbangnya rezim-rezim kekuasaan Timur Tengah secara tragis dan mengenaskan yang melibatkan aliansi Amerika Serikat dan NATO yang bernafsu ekspansi.

Kediktatoran Saddam Husein, Husni Mubarok, Muamar Qadafi dan pemimpin-pemimpin dunia Arab lainnnya yang kini juga tengah di guncang memang naif dan inilah barangkali kereta terakhir transisi politik dari sistem otoritarian menuju demokrasi. Bahwa tumbangnya para tiran di Timur Tengah itu merupakan wujud perlawanan dari rakyatnya, juga tidak terbantahkan. Namun menyaksikan agresivitas para pemimpin-pemimpin negara sekutu Barat untuk menitervensi dan menjatuhkan rezim negeri-neger lain yang sesungguhnya berdaulat, sungguh merupakan bentuk kediktatoran lain yang tidak kalah naif dan destruktif.

Demikian halnya soal keterasingan terbunuhnya Muamar Qadafi, yang meski dilakukan oleh tangan –tangan anak negeri Libya, tetapi ruang politik yang menyertainya tidak lepas dari angkara serdadu-serdadu sekutu yang menularkan virus keganasan perang dan invasi. Diktator pun seolah tak layak mati wajar, dia harus terbunuh atau di bunuh dengan keji. Padahal di belahan negri yang konon mengklaim beradab dan watak-watak praktik-praktik kediktatoran tetap bertahta dan menularkan perangainya di seluruh jagad.

Kita tidak menemukan bagaimana para pemimpin negara adidaya itu tidak memperagakan watak dan perilaku kepemimpinan yang otoritarian terhadap terhadap pemimpin negeri negeri lain yang dianggapnya dunia ketiga atau periferal. Hitam putihnya dunia, mana benar dan mana salah  dan mana yang harus di gulingkan seolah milik negara adidaya, baik melalui atau tanpa keabsahan Perserikatan Bangsa-bangsa yang  ironi dan tragedi.

Beginikah wujud dunia abad ke-21 yang diagung-agungkan bertumpu pada Demokrasi, hak asasi manusia, dan nilai-nilai universal moderenitas? Para pejuang demokrasi dan hak asasi manusia sungguh sensitif pada peristiwa-peristiwa lain yang dianggap melanggar hak asasi manusia. Tetapi, meraka banyak bungkam dalam menyikapi tragedi dijatuhkan dan kematian Muamar Qadafi yang mengenaskan, invasi Irak yang luluhlantak hingga saat ini dan bara kekacauan tak berkesudahan di Afghanistan.

Belum untuk berbagai kesewenang-wenangan lain yang seringkali bersembunyi di balik otoritas PBB seperti penindasan rakyat Palestina di tangan kekejaman Israel yang selalau mendapat restu negara-negara adidaya. Dimana tatanan dunia yang adil dan berkeberadaban yang sering di dengung-dengungkan oleh para pemimpin dan diplomat dunia saat ini?
Irak, Libya, Afghanistan merupakan contoh dari ladang pembantaian manusia dan kedaulatan negara atas nama demokrasi dan hak asasi manusia yang absurd. Inlinakh tragisme dunia modern dan post modern yang tidak jauh berbeda dan seolah merupakan penjelmaan  baru dari Austwitch. Sebuah  peristiwa perang dunia kedua yang dilakukan Nazi Jerman yang membantai lebi dari 1,5  juta Yahudi di kamp kosentrasi dan kamp pemusnahan, sekaligus lambang dari kegagalan proyek modernisme Barat.

Kini yang dilecehkan dan diruntuhkan bukan lagi modernisme, tetapi juga dunia postmodernisme yang pada awalnya mengoreksi kegagalan modrenisme, namun bungkam dalam menghadapi banyak tragedi  yang terjadi di belahan dunia saat ini. Narasi-narasi indah politik,ilmu pengetahuan, teknologi, dan keadaban hubungan internasional sekedar pembungkus manis dari tindakan-tindakan barbar yang masif dan sistematik.

Hasil akhirnya sama: nyawa tak berdosa berjatuhan dengan murah, negeri-negeri berdaulat di hinakan dan dijatuhkan. Lalu daru reruntuhan yang mengenaskan itu bercokol rezim-rezim baru yang menjamin kelangggengan kepentingan politik dan ekonomi negara-negara adidaya.

Ausschwitch. Adalag nama yang di gunakan untuk mengidentifikasi tiga kamp kosentrasi dan pembantaian oleh Jerman Nazi. Nama ini diambik dari versu Jermann atas nama kota Polandia di O wi cim, terletak 60 KM barat dimulai pada 1940 sebagai bagian utama dari holocaust.

Kini New Auschwitz dan holcaoust tengah di produksi di banyak belahan dunia yang dipandang primitif oleh negara-negara adidaya yang mengklaim diri beradab. Yang menempatkan negeri-negeri maju itu sebagai penjaga utama demokrasi dan hak asasi manusia universal. Penguasa dan negara manapun yang dimasukkan sebagai rezim otoriter, tidak demokratis, melanggar hak asasi manusai, bahkan mengembangkan nuklir dengan mudah di invasi dan dihancurkan negara-negara adidaya itu.

Berbagai aturan internasional hingga perlindungan institusi Perserikatan Bangsa Bangsa di jadikan otoritas pemusnahan bangsa atau negara lain yang sekiranya mengancam status quo negeri adidaya tsb. Fakta pelangggaran hak asasi manusia dan demokrasi menjadi tidak penting seperti tidak terbuktinya Irak mengembangkan senjata kimia pemusnah, yang penting ketika dipandang mengancam status quo para polisi dunia itu, maka dengan gampang diinvasi.

Akankah tragedi tragedi Irak dan Libya terus berulang? Sejauh tidak ada pemberontakan baru dari negara-negara nonadiaya di belahan benua manapun, rasanya sulit menghentikan kesewenang-wenangan atau kediktatoran baru yang membuana ini.  Hampir pada umumnya rezim di setiap negara berkembang banyak diikat oleh berbagai regulasi politik, ekonomi, dan budaya yang mengabsahkan dan melanggengkan Autschwitz dan holocaust baru.

Lembaga-lembaga dunia seperti PBB, G-20, NATO ditunjang IMF, Bank Dunia, plus globalisasi yang meraksasa itu justru menjadi institusi pengabsah dan pengawet kamp-kamp  kosentrasi  dan pemusnah di abad modern tersebut. Setiap negara yang menunjukkan gelagat perlawanan, seperti Iran, Kuba dan sejenisnya akan dengan muda di masukkan dalam daftar pelanggar demokrasi dan hak asasi manusiam dan ideom-ideom modern lainnnya,  yang kapan saja siap untuk di invasi dan diganti rezim.

Dunia saat ini telah kehilangan sosok Suharto,  Nehru, Nasser, Tito ata tokoh yang berjiwa merdeka lainya. Mereka menjadi bagian dari dunia, tetapi kesadaran kritis dan kemandiriannya untuk menegaakkan kedaulatan bangsa dan negara sungguh luar biasa. Sementara, tokoh-tokoh dunia saat ini telah menjadi bagian dari rezim kekuasaan adidaya yang lembek dan pennurut.

Bolej jadi Cina tampiil menjadi pusat hegemoni baru, tetapi negeri ini lebih sibuk membangun imperiumnya sendiri. Sedangkan Rusia juga tak juga beranjak untuk menjadi kekuatan penyeimbang karena telah terlumpuhkan oleh pilihannya menjadi negara ‘demokrasi’

Sementara itu, para pemimpin civil society dan kaum intelegensia dunia pada umumnya tenggelam dalam rutinitas dan mobilitas yang justru bukan hanya masuk dalam perangkap dunia yang semakin mengokohkan posisi negara adidaya. Bahkan, tidak sedikit yang berperan menjadi bagian aktor-aktor yang sadar atau tidak sadar ikut melanggengkan dan membesarkan hegemoni dunia yang sarat ketidak adilan dan menularkan virus Austwitch dan holocaust baru itu.
Imperialisme Baru

Ketika Micahel Foucautl mengkritik dunia modern yang melahirkan kegilaan (madness) yang meluas di negeri-negeri Eropa pada awal abad ke-20, bukankah apa yang terjadi di Irak, Libya, Afghanistasn dan negeri-negeri yang mengalami invasi dan pengahncuran sesungguhnya merupakan bentuk kegilaan dunia baru yang jauh lebih masif dari dari abad ini? Tidakkah proyek Freeport, Newmont, proyek MNC atau TNC laiinya jauh berbeda dari VOC di masa lampau dengan tampilan kontrak yang tampak lebih demokratis? Tidakkah yang terjadi di negeri Timur Tengah merupakan bentuk imperialisme baru?

Jika Foucoult sang pemikir postmodernisme itu menyebut kegilaan sebagai unreason atau ketidakmasukakalanm, maka kegilaan NATO, Amerika Serikat dan ulah sekutu lainnya yang terjadi di Irak Libya akan berlalu begitu saja sebagai reason atau masuk diakal oleh keabsahan demookrasi dan hak asasi manusia yang telanjur menjadi hegemoni baru yang mengikat atau lebih tepat mencengkeram relasi antar bangsa dan antar negara saat ini.

Atas nama demokrasi dan hak asasi manusia yang dipatok universal, siapapun dan negeri manapun harus siap di intervensi dan diinvasi dan diluluh lantakkan oleh para polisi dunia tanpa rasa sungkan dan perlawanan. Semua bentuk Austwitc atau holocaust baru itu menjadi reason atau masuk akal, bukan ketakmasukakalan apalagi kegilaan baru. Mungkin inilah tragedi abad ini, yang entah sampai kapan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s