Jejak Kerajaan Majapahit

Temuan-Temuan Itu Diuraikan Dalam Negarakrtagama
BUMI yang kita pijak ini sebelum menjadi wilayah MAJAPAHITRI adalah bumi Majapahit. Mojopahit adalah ikon kebesaran sejarah dan budaya bangsa Indonesia. Mojopahit telah memberikan bukti-bukti sejarah dan kepurbakalaan yang amat besar di negeri ini dibanding dengan bukti-bukti sejarah kerajaan-kerajaan lain di wilayah Nusantara. Situs Ibu Kota Majapahit yang kini terindetifikasi terletak di wilayah administrasi Kabupaten Mojokerto dan Jombang, dengan pusat keratonnya berada di Trowulan, hingga kini masih memunculkan fakta-fakta yang dapat memperkuat keberadaannya sebagai kerajaan besar di Jawa.

Satu lagi temuan spektakuler yang baru-baru ini ditemukan di situs Trowulan adalah pondasi batu-bata besar dan panjang di kedalaman 2,5 m, dimana setelah dilakukan penggalian sementara oleh Tim Arkeologi dari balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Timur sepanjang lebih kurang 35 m, ternyata masih belum terputus.

Artinya, masih dimungkinkan pondasi tersebut sangat panjang dan perlu dilakukan penggalian seterusnya sampai semuanya dapat diketahui pondasi tersebut bekas bangunan apa. Hal ini sangat penting guna mengetahui secara sempurna atas satu obyek temuan lapisan budaya bangsa yang tak ternilai harganya. Tentunya disamping temuan-temuan lain yang mendahuluinya.

Imajinasi kita telah terbentuk dalam melihat temuan-temuan benda purbakala di situs Trowulan, senantisa tertuju pada keberadaan bangunan kota kerajaan Majapahit pada masa kebesaran dan kejayaannya, sebagaimana diuraikan secara rinci dalam Kakawin Negarakrtagama oleh Rakawi Prapanca pada tahun 1365 M.

Ibukota Majapahit mempunyai tembok keliling dari batu merah yang tebal dan tinggi. Pintu pintu barat bernama Pura Waktra, menghadap ke lapangan luas yangdikelilingi oleh parit. Ditempat itu pula terdapat tempat menunggu para peronda.

Di sebelah utara terdapat gapura, disebelah timur terdapat panggung luhur yang lantainya berlapis batu putih mengkilat. Di sebelah utara dan selatan berderet rumah yang memanjang, sedangkan di sebelah selatan terdapat balai prajurit tempat pertemuan setiap bulan Caitra.

Halaman istana, di pintu gerbang utama merupakan pemukiman keluarga raja. Disini terdapat bangunan luas yang disebut Manguntur. Ada pula rumah-rumah jaga dari pegawai-pegawai kerajaan yang terletak di lingkungan tembok utama sebelah pintu masuk. Tempat pemukiman pejabat agama adalah paviliun tinggi dengan atap yang bertingkat-tingkat dan kaya akan hiasan.

Balai Agung Manguntur denga Balai Winata di tengah menghadap bangunan watanan. Di sebelah timur ada pahoman, tempat pusat keagamaan, berkelompok tiga-tiga mengitari kuil siwa, sedangkan di selatan ada tempat penjagaan. Demikianlah uraian dalam Negarakrtagama tentang Ibu Kota Kerajaan Majapahit.

Apakah temuan cagar budaya berupa pondasi besar dan panjang di situs Trowulan, yang berjarak kurang lebih 100 M di sebelah selatan kolam Segaran, berorientasi timur-barat, sebagaimana pertama kali dilaporkan oleh Agus Basuki, karyawan PLN Mojokerto dan telah direspon oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jatim secara positif tersebut akan memenuhi unsur-unsur bangunan dalam uraian Negarakrtagama? Apakah pondasi tersebut merupakan pondasi tembok tebal dan tinggi mengelilingi komplek keraton (istana raja)? Ataukah merupakan salah satu bagaian dari bangunan komplek pemukiman Nglinguk? Semua itu perlu pembuktian.

Oleh karenanya adalah menjadi tugas Balai Arkeologi Nasional untuk melakukan penggalian sesuai dengan keharusannya agar dapat diketahui kepastiannya serta kemungkinan-kemungkinan upaya rekonstruksinya. Hal ini tentu sangat diharapkan guna menyingkap misteri kebesaran Majapahit, yang telah menjadi ikon kebesaran sejarah dan budaya bangsa Indonesia.

Tentu kita juga masih ingat bagaimana sejarah penemuan Candi Tikus yang memiliki latar belakang sejarah pada masa Majapahit. Hal ini tercermin dalam konsep pembangunannya yang mirip dengan bentuk Gunung Penanggungan sebagai gunung suci Majapahit.

Selain itu, ditunjuk pula adanya bentuk-bentuk miniatur candi, berdasarkan bukti arkeologis di Jawa Timur, tinggalan bentuk miniatur candi adalah berasal dari masa Majapahit. Konon ceritanya di Candi Tikus tersebut adalah tempat pemandian para istri raja-raja Majapahit.

Sejarah penemuan Candi Tikus, semua merupakan lahan persawahan penduduk, namun pada tahun 1914 lahan sawah tersebut diserang oleh hama tikus. Kemudian penduduk sepakat untuk melenyapkan para tikus dan mengejarnya hingga tikus-tikus itu diketahui menghilang masuk ke dalam gundukan tanah yang berisi batu-bata. Sebenarnya, yang terlihat itu tidak lain adalah bagian atap miniatur candi yang paling atas dari patirtaan Candi Tikus.

Atas perintah Bupati Mojokerto I KTR Kromojoyo Adinegoro, tempat itu dilakukan penggalian yang akhirnya muncul candi yang kemudian bangunan tersebut bernama Candi Tikus.

Sebagai perbandingan atas temuan pondasi baru tersebut, kita bisa melihat pada situs Umpak Sentono Rejo yang ditemukan susunan umpak batu dua berjajar dengan orientasi barat-timur. Dalam penggalian, diantara umpak-umpak batunya ditemukan struktur batu kuno yang saling berkait.

Selain itu, di tanah sekitar umpak dalam penggalian ditemukan fragmen-fragmen genting. Nampaknya situs Umpak Sentono Rejo ini merupakan bangunan bertiang 12 (dengan 6 pasang umpak batu) dan beratap genting. Ada petunjuk merupakan bangunan plafon pada masa Majapahit. Plafon adalah bangunan untuk kepentingan sehari-hari dan tidak ada hubungannya dengan keagamaan. Satu di antaranya adalah banguan tempat tinggal atau rumah. Sedangkan keberadaan rumah selalu ada sumur untuk memenuhi kebutuhan air dalam rumah. (situs: PEMKAB Mojokerto)

<!–nextpage–>

Satu pemikiran pada “Jejak Kerajaan Majapahit

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s